My Research Interests : Introduction

Hello students and colleagues!

Terdapat ungkapan ala ala motivator, jika ingin produktif, maka kita harus menyusun dan menetapkan target kita. Dengan demikian maka segala upaya kita pun dapat lebih terarah. Target-target tersebut akan berjalan jika bersifat realistis, dalam artian sebuah aspek yang bisa kita kendalikan, serta juga didukung oleh sumber daya yang memadai. Tak lengkap rasanya jika target tersebut belum menemukan para kolaborator yang sejalan, karena pada dasarnya kesuksesan akan sebuah pencapaian tidak lepas dari dukungan rekan kerja kita. Rekan kerja tersebut saya maknai dalam arti luas, bukan sebatas di dalam institusi kerja saya saja namun juga mereka dan kalian yang menekuni bidang yang sama dengan saya.

Saya memulai kuliah sarjana saya di tahun 2005, kemudian menamatkan pendidikan pasca sarjana saya yang pertama di awal tahun 2012. Dalam pergumulan akademis dan sosial saya selama periode tersebut, saya telah menemukan minat dan topik studi saya, yang berangkat dari kegelisahan saya sehari-hari. Saya banyak membaca tentang kelangkaan sumber daya alam, ketersediaan pangan, pencemaran, kekeringan, pemborosan, serta hidup yang saya jalani semasa belajar mempertemukan saya dengan banyak masalah riil dan strategis seperti hal tersebut yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Akar masalahnya : sifat manusia yang serakah, dan keserakahan ini difasilitasi sekaligus dipolitisasi bahkan oleh negara.

Pada saat saya menjalankan kuliah pasca sarjana, saya juga sempat bekerja di sebuah lembaga internasional yang cukup menjadi favorit mahasiswa hubungan internasional pada umumnya. Setelah periode kontraknya berakhir, saya pun bergabung dengan sebuah lembaga riset di alma mater saya ketika itu, dengan proses perekrutan lewat Twitter. Betul-betul tidak profesional sekali, kan? Saya juga kurang paham kenapa dulu saya “diangkut” :) Saya pikir saya cuma akan dieksploitasi, dan itu benar. Tapi, saya beruntung mendapatkan banyak kesempatan penelitian hingga kajian multidisiplin dengan metodologi ajaib yang memaksa saya belajar lebih keras di sela-sela perkuliahan yang sering kali saya tinggalkan demi pekerjaan ini.

Saya diperkenalkan dengan kesempatan-kesempatan dan relasi yang tak kalah ajaib dan membuka wawasan saya. Para peneliti senior memperkenalkan saya dengan kajian politik energi, politik kebijakan keuangan dan pembangunan, penguatan masyarakat sipil, plus meneliti dibimbing mereka-mereka yang secara langsung berkecimpung di dalamnya. Saya memutuskan untuk terus berkarir di dunia akademik, mulai mengangkat dan mengusulkan beberapa proposal penelitian yang terkait dengan hal-hal yang menjadi minat akademis saya selama belajar.

Ok, saya pikir di bidang inilah saya bisa produktif dan menetapkan target yang realistis bagi pengembangan diri dan akademik saya. Di sisi lain, saya tetap bisa menjawab kegelisahan saya tentang sifat manusia yang serakah itu, terlebih karena juga menyangkut hal-hal yang dekat dengan keberlangsungan hidup kita. Lebih dalam lagi, jika kita mengambil topik yang “membumi” maka kita akan lebih dekat dengan solusi sebuah permasalahan.

Saya dan kita semua adalah bagian dari problem kemanusiaan, lingkungan hidup, dan segala macam konflik yang timbul karenanya. Namun kita juga bisa menjadi solusinya. Dimulai dari hal-hal yang terjangkau dulu.

Menurut saya, hal yang terjangkau, pertama ialah pembangunan masyarakat lewat organisasi dan mobilisasi, karena jumlah penduduk kita banyak, banyak juga yang hebat-hebat namun kurang bersatu dan terorganisasi. Kedua, pembangunan energi dan lingkungan, karena sumber daya ini sangat fundamental untuk hajat hidup orang banyak dan juga industrialisasi ekonomi, namun kondisi ini terus dirusak oleh berbagai faktor dan meningkatkan dependensi kita pada pihak lain, terutama pada kepentingan pasar. Ketiga, memperbaiki cara berpikir tentang pembangunan internasional yang harus mengarah pada pembangunan negara berkembang hingga skala mikro. Pembangunan selalu dimaknai pada skala makro dan berhenti hanya pada infrastruktur tanpa memerhatikan keunikan sosiologis dan kultural masyarakat atau local wisdom.

Mahasiswa, termasuk saya dulu, gampang sekali takjub tentang posisi jabatan di lembaga internasional, ingin jadi diplomat, traveling keliling dunia dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang merepresentasikan negara kita. Namun setelah berhadapan langsung dengan masyarakat, banyak mahasiswa yang gagap dan asing berinteraksi dengan masyarakatnya sendiri. Pembelajaran hanya berhenti di kelas dan di event-event berskala internasional tanpa kita sendiri pernah berpengalaman melihat kondisi langsung keberagaman bangsa kita, alih-alih kontak dengan permasalahan riil yang menghinggapi kelompok paling rentan dalam keseharian kita.

Saya pikir saya harus duluan menjadi akademisi yang membumi, punya relasi bagus dengan masyarakat sekitar baru kemudian mengejawantahkannya dalam kajian-kajian hubungan internasional yang berbasis pada masalah masyarakat, bukan lagi negara saja. Baru kemudian bisa menuturi peserta didik secara orisinil, dari hasil kajian dan sesuai refleksi saya sendiri, yaa itu cara saya memosisikan diri sesuai dengan kemampuan dan visi saya sendiri. Selama saya bisa menjangkaunya saja maka akan saya lakukan.

Post ini merupakan pengantar awal motivasi penelitian akademis saya, tentang bagaimana saya tertarik kepada topik yang saya tekuni saat ini. Saya harap saya akan selalu punya jejak untuk menjadi pengingat akan fokus penelitian saya. Saya tidak akan terlalu banyak mengikuti perkembangan topik yang tidak langsung terkait dengan ketiga minat saya tersebut untuk kepentingan meningkatkan keahlian, meskipun sampai sekarang belum juga jadi ahli, hehehe..

Semoga ada waktu untuk menjabarkannya, semoga mahasiswa jadi memiliki bayangan tentang judul tugas akhir ataupun inspirasi tentang pilihan karier. Bagi sesama akademisi, pegiat organisasi masyarakat sipil, pengambil kebijakan, dan praktisi industri, semoga juga berkenan berkolaborasi.

Tunggu posting berikutnya yah… :)

Leave a Reply